Rabu,
13 Maret 2013 kami murid xi ips 1: ivander (17), vina (34), xi Ips 2: denda (16), triana (33)
Ips 3: yohannes (33), dan leonardo (16) beserta seluruh siswa kelas sebelas IPS mengikuti studi lapangan ke stasiun televisi. Untuk memaksimalkan maksud dan tujuan dari studi lapangan ini, siswa dibagi menjadi dua; stasiun televisi Indosiar dan Global. Walaupun tak banyak dari kami yang mungkin berminat bekerja di sebuah stasiun televisi baik sebagai aktris maupun editor yang bekerja di balik layar, banyak sekali pengalaman yang kami peroleh dari studi lapangan ini. Banyak hal penting yang selama ini kita anggap remeh ternyata merupakan hal yang harus kita ketahui karena kenyataannya memang tidak mudah untuk menjadi orang-orang yang bekerja di stasiun televisi. Stasiun televisi termasuk dalam Pers yang merupakan pilar keempat dalam negara demokrasi yang mempunyai banyak peranan, antara lain:
Ips 3: yohannes (33), dan leonardo (16) beserta seluruh siswa kelas sebelas IPS mengikuti studi lapangan ke stasiun televisi. Untuk memaksimalkan maksud dan tujuan dari studi lapangan ini, siswa dibagi menjadi dua; stasiun televisi Indosiar dan Global. Walaupun tak banyak dari kami yang mungkin berminat bekerja di sebuah stasiun televisi baik sebagai aktris maupun editor yang bekerja di balik layar, banyak sekali pengalaman yang kami peroleh dari studi lapangan ini. Banyak hal penting yang selama ini kita anggap remeh ternyata merupakan hal yang harus kita ketahui karena kenyataannya memang tidak mudah untuk menjadi orang-orang yang bekerja di stasiun televisi. Stasiun televisi termasuk dalam Pers yang merupakan pilar keempat dalam negara demokrasi yang mempunyai banyak peranan, antara lain:
pertama,
pers berperan sebagai media informasi. Informasi yang disajikan pers merupakan
berita-berita yang telah diseleksi dari berbagai berita yang masuk ke meja
redaksi, dari berbagai sumber yang dikumpulkan oleh para reporter di lapangan. Kedua,
pers sebagai media pendidikan. pers harus dapat membantu pembinaan swadaya,
merangsang prakarsa sehingga pelaksanaan demokrasi Pancasila, peningkatan
kehidupan spiritual dan kehidupan material benar-benar dapat terwujud. Ketiga,
pers sebagai media entertaiment yaitu untuk hiburan, namun hiburan yang
sifatnya mendidik atau netral saja yang diperbolehkan tetapi yang melanggar
nilai-nilai agama, moralitas, hak asasi seseorang, atau peraturan tidak
diperbolehkan. Keempat, pers sebagai media kontrol sosial. Maksudnya pers
sebagai alat kontrol sosial adalah pers memaparkan peristiwa yang buruk,
keadaan yang tidak pada tempatnya dan yang menyalahi aturan, supaya peristiwa
itu tidak terulang lagi dan kesadaran berbuat baik serta mentaati peraturan
semakin tinggi. Pers sebagai alat kontrol sosial bisa disebut “penyampai berita
buruk”, dan yang terakhir yaitu Pers
sebagai media ekonomi. sebagian besar surat kabar dan majalah di Indonesia
memperlakukan pembacanya sebagai pangsa pasar dan menjadikan berita sebagai
komoditas untuk menarik pangsa pasar itu.
Dalam
pelaksanaanya, stasiun televisi sudah sesuai dengan kode etik kepenyiaran.
Mengapa? Karena dalam menyajikan berita, editor tidak sembarangan dalam
mengedit gambar. Misalnya dalam kasus kriminal, wajah korban dan tersangka akan
dibuat tidak terlihat (di-blur kan)
demi melindungi privasi korban maupun tersangka. Tersangka belum tentu bersalah,
ketika sudah pasti bahwa tersangka bersalah maka wajah tersangka tidak di blur lagi. Contoh lainnya adalah rokok.
Dalam berita-berita, apabila ada orang yang merokok di latar tentu akan di-blur kan dengan tujuan tidak dicontoh
anak-anak yang menonton berita. Menurut kami setelah beberapa pertimbangan dan
tentunya setelah mengamati secara langsung kegiatan-kegiatan di dalam stasiun
tv Indosiar maupun Global, sudah sesuai dengan media jurnalistik, edukasi dan
sosial kontrol sebagaimana peranan pers.
Banyak
pelajaran yang kami terima tentang bagaimana proses dan teknik dalam menyajikan
berita seperti cara menyusun berita secara kronologis hingga penonton bisa
mengikuti seolah-olah berita itu seperti suatu cerita. Bahasa menjadi elemen
yang penting dalam berita. Seorang pembawa berita hendaknya menggunakan bahasa
percakapan. Hilangkan kata bersayap, berkabut bahkan klise. Apabila narasumber
memberikan keterangan dengan kalimat-kalimat klise, seorang reporter yang baik akan
menerjemahkan perkataan narasumber itu dengan kalimat-kalimat sederhana.
Dalam
proses dan teknik penulisan headline mempunyai beberapa tahap atau syarat
yaitu:
-
Buat judul atau headline artikel yang kreatif
dan menarik. Judul atau headline artikel yang menarik akan memungkinkan
pembacanya merasa penasaran dengan keseluruhan isi dari artikel tersebut.
Jangan hanya terpaku pada keyword atau kata kunci saja, kata kunci memang
penting tapi justru hal itu akan mengurangi nilai dari artikel tersebut.
-
Gunakan paragraph justify(rata kanan-kiri), bullet atau pendukung lainnya sehingga
artikel yang ditampilkan terlihat rapi. Jika perlu pergunakan juga penulisan
dengan format Bold(huruf tebal ), italic(huruf miring) maupun underline(garis bawah) pada kalimat atau
kata-kata yang dianggap penting. Jangan lupa juga beri jarak antar paragraph
sehingga tulisan artikel tidak tampak berdesakan.
-
Buatlah artikel yang isinya dapat membuat
pembaca merasa terkesan dan seakan-akan dia yang mengalaminya. Gunakan metafora
dan deskripsi yang jelas, tapi tidak berlebihan. Apabila dibutuhkan, gunakanlah
gambar untuk mendeskripsikan sehingga pembaca lebih mudah untuk mencernanya.
-
Gunakan istilah dan tata bahasa yang mudah
dicerna. Tata bahasa yang berbelit-belit akan membuat pembacanya merasa bosan
karena tidak langsung ke pokok persoalan yang mereka butuhkan. Untuk Penggunaan
istilah baru atau yang kurang umum hendaknya diberi penjelasan tambahan berupa
kurung buka dan kurung tutup sehingga pembaca menjadi lebih mengerti dengan apa
yang dimaksud.
Berbeda
dengan membaca berita, dalam teknik dan prosesnya yaitu Intonasi. Dalam membaca
berita intonasi harus stabil naik turun diatur nada suara disesuaikan dengan
berita yang dibacanya supaya pendengar tidak bosan. Artikulasi atau Pengucapan. Dalam Artikulasi harus jelas huruf
dan kalimatnya. Artikulasi harus berpedoman pada EYD (ejaan yang
disempurnakan). Dalam membaca berita volume suara harus jelas dan mantap,serta disesuaikan
dengan tempat. Mengapa? Karena setiap tempat yang digunakan untuk membaca
berita memberikan kesan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, jika berada di
tempat terbuka, usahakan untuk membaca berita dengan suara keras, dan sebaliknya,
jika berada dalam ruangan kecil dan tertutup kita tidak perlu membaca berita
dengan suara yang terlalu keras. Selain itu, kita juga harus bisa menyesuaikan
dengan pengeras suara yang digunakan (jika menggunakan pengeras suara). Selain
dua teknik yang telah disebutkan tadi, tidak lupa tekanan suara juga harus diperhatikan.
Dalam membacakan berita, tekanan suara haruslah jelas dan mantap. Apabila menggunakan
kata-kata bahasa indonesia, jangan gunakan lagi penekanan kata-kata untuk
bahasa asing. Faktor yang tak kalah pentingnya adalah kecepatan kita dalam
membaca berita. Kita harus bisa mengatur kecepatan dalam membaca berita, tidak
perlu terlalu cepat, atau terlalu lambat seperti orang mengeja. Kepercayaan
diri juga sangat dibutuhkan dalam membaca berita agar pendengar yakin dengan
berita yang disajikan, andaikan pembaca berita ragu-ragu dalam membaca berita,
siapa yang akan percaya pada berita tersebut.
Di
balik sebuah tulisan yang kreatif, terdapat pula editor yang hebat. Tidak ada penulis yang
bisa bekerja tanpa editor yang baik. Editing adalah pekerjaan intelektual dan
teknis. Intelektual, karena ia membutuhkan wawasan yang luas untuk mengetahui
kebenaran suatu fakta dalam sebuah naskah. Teknis, karena ia membutuhkan
kecermatan dalam mengoreksi pilihan kata, kalimat, dan tanda baca. Dengan
intelektualitas dan kemampuan teknis, editor menjadikan sebuah naskah menjadi sangat
enak dibaca, layak siar, serta mudah dicerna pembaca. Editing efektif
membutuhkan intelijensia, empati, fleksibilitas, kepercayaan diri, kemauan
untuk bereksperimen, ketajaman, ketelitian, kesabaran, guna membantu penulis
dalam mencapai tujuannya. Dalam proses penulisan naskah berita, editing
merupakan bagian dari aktivitas pengolahan hasil liputan (news processing)
setelah melewati tahap news planning (perencanaan berita), news gathering
(peluputan peristiwa di lapangan), dan news writing (penulisan bahan-bahan
berita menjadi sebuah tulisan berita). Penyutingan secara redaksional dimana Editor
memeriksa tiap kata dan kalimat agar logis, mudah dipahami, dan tidak rancu
(benar ejaan, punya arti, dan enak dibaca). Penyutingan secara substansial
yaitu Editor memperhatikan fakta agar tetap akurat dan benar. Secara teknis
tugas editor mencari kesalahan-kesalahan faktual dan memperbaikinya, di antaranya
kekeliruan salah tulis tentang nama, jabatan, gelar, tanggal peristiwa, nama
tempat, alamat, dan sebagainya Memperbaiki kesalahan dalam penggunaan
tanda-tanda baca, tegas dalam hal-hal seperti penggunaan huruf besar dan
singkatan, penggunaan gelar, tanda baca, ejaan, tata bahasa, pemilihan jenis
huruf untuk judul, dsb. Sedangkan secara non teknis tugas editor yaitu Memperhatikan apakah naskah berita sudah
memenuhi nilai-nilai jurnalistik dan kriteria layak muat aktual, faktual,
penting, dan menarik, meneliti apakah naskah berita sudah menaati doktrin
kejujuran (fairness doctrine) serta asas keberimbangan (cover both side). Jika
belum, editor akan menugaskan kembali reporter untuk memenuhinya dan memperhatikan apakah opini, interpretasi, atau
penilaian wartawan lebih menonjol daripada fakta hasil liputan serta menjaga
jangan sampai terjadi kontradiksi dalam sebuah naskah. Menjaga jangan sampai
terjadi penghinaan, dan tulisan multitafsir.
Dalam
penyajian dan membaca berita tentu saja terdapat beberapa kode etik agar tidak
terjadi kesalahan atau ada pihak-pihak yang dirugikan, yaitu wartawan Indonesia
bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak
beritikad buruk. Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan
tugas jurnalistik, Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan
secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta
menerapkan asas praduga tak bersalah. Wartawan Indonesia tidak membuat berita
bohong, sadis, dan mengandung porografi. Wartawan Indonesia tidak menyebutkan
dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan
identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan. Wartawan Indonesia tidak
menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap. Wartawan Indonesia memiliki
hak tolak untuk melindungi narasumber yang tidak bersedia diketahui identitas
maupun keberadaannya, menghargai ketentuan embargo, informasi latar belakang,
dan off the record sesuai dengan kesepakatan. Wartawan Indonesia tidak menulis
atau menyiarkan berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap
seseorang atas dasar perbedaan suku, ras, warna kulit, agama, jenis kelamin,
dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat
jiwa atau cacat jasmani. Wartawan Indonesia menghormati hak narasumber tentang
kehidupan pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik. Wartawan Indonesia
segera mencabut, meralat, dan memperbaiki berita yang keliru dan tidak akurat
disertai dengan permintaan maaf kepada pembaca, pendengar, dan atau pemirsa. Wartawan
Indonesia melayani hak jawab dan hak koreksi secara proporsional. Tiga orang
penting dalam penyajian berita yaitu news
getter merupakan orang yang turun ke lapangan untuk mencari berita, news writer, orang yang menulis
berita-berita ke dalam bentuk koran dan news
reader ialah orang yangmembaca berita yang telah dibuat. Namun tidak mudah
menjadi pembaca berita atau radio, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi akan
berjalan lancar dalam membaca berita, yaitu
Membaca, menganalisis serta menarik kesimpulan dari Issue yang sedang
hangat, tidak bersikap stereotif (cepat menyimpulkan ), artikulasi harus
diperhatikan (Tidak cadel dan tidak medok), ekpresi harus menunjukkan percaya
diri. Bahkan kalau bisa mempengaruhi pemirsa dengan cara mengkerutkan dahi atau
tatapan mata yang tajam disesuaikan dengan berita yang disajikan, memahami
tentang kondisi sosial budaya area Stasiun TV, pahami isu luar negeri hal ini
dimaksudkan agar bisa memproyeksikan issue luar negeri, menjadi issu lokal
maupun nasional, kemampuan analisis yang tajam, serta bersikap kritis pada saat
wawancara, dan memantapkan kembali motivasi. Dalam membaca berita ada yang
disebut dengan teleprompter yaitu membaca berita teks secara mekanik dan elektronik,
ada hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu, pembaca berita membaca teleprompter
dengan tetap menghadap pada kamera, pembaca harus mengetahui tanda baca dan
artikulasi harus jelas maka pembaca berita harus berwawasan luas, menghindari
banyaknya kesalahan dalam membaca.
Terdapat
banyak karyawan dibalik kesuksesan Indosiar dan Global, sampai sekarang ada
kurang lebih ada sekitar 1300 karyawan. Tentu saja latar belakang para karyawan
berbeda-beda, ada yang hanya lulusan SMA, SMP, bahkan SD, tetapi sekarang
syarat karyawan minimal S1 dan juga mempunyai bakat dibidangnya. Sistem kerja
yang diterapkan yaitu, membuat program yang akan dijalankan dan masing-masing
karyawan bekerja sesuai dengan keahlian dan jabatannya masing-masing. Cara
perekrutan karyawan yaitu calon karyawan harus terlebih dahulu ditetapkan lamarannya
sesuai dengan pekerjaan atau jabatan yang akan dijabatnya. Dasar perekrutan
harus berpedoman pada spesifikasi pekerjaan yang telah ditentukan untuk
menjabat jabatan tersebut. Job specification harus diuraikan secara terinci
& jelas, agar para pelamar dapat mengetahui kualifikasi-kualifikasi yang
dituntut oleh lowongan kerja tersebut. Misalnya batas usia, pendidikan, jenis
kelamin, kesehatan, dll.Jika spesifikasi pekerjaan dijadikan dasar &
pedoman perekrutan, maka karyawan yangditerima akan sesuai dengan uraian
pekerjaan dari jabatan atau pekerjaan tersebut. Setelah diketahui spesifikasi
pekerjaan karyawan yang dibutuhkan maka kita harus menentukan sumber-sumber
perekrutan calon karyawan tersebut. Sumber perekrutan calon karyawan itu adalah
sumber internal dan eksternal perusahaan. Sumber internal adalah karyawan yang
akan mengisi lowongan kerja diambil dari dalam perusahaan tersebut, yakni
dengan cara memutasikan atau pemindahan karyawan yang memenuhi spesifikasi
pekerjaan jabatan itu. Pemindahan karyawan itu baik yang bersifatvertikal
(promosi ataupun demosi) maupun bersifat horizontal. Jika masih ada karyawan yang
memenuhi spesifikasi pekerjaan, sebaiknya pengisian jabatan tersebut diambil
daridalam perusahaan, khususnya untuk jabatan manajerial. Hal ini sangat
penting untuk memberikan kesempatan promosi bagi karyawan yang ada. Sumber
Eksternal adalah karyawan ya ng akan mengisi jabatan yang lowong dilakukan perekrutan
dari sumber-sumber tenaga kerja diluar perusahaan, yaitu: Kantor penempatan
tenaga kerja, lembaga-lembaga pendidikan, referensi karyawan atau rekanan,
serikat-serikat buruh, pencangkokan dari perusahaan lain, nepotisme dan
leasing, pasar tenaga kerja dengan memasang iklan pada media massa, dan Sumber-sumber
lainnya.
Sejarah
berdirinya Indosiar adalah salah satu stasiun televisi swasta nasional di
Indonesia. Pertama kali Indosiar berdiri pada tanggal 11 Januari 1995, awalnya
Indosiar beroperasi 8 jam dan hanya ada 8 transmisi namun sekarang 24 jam dan
35 transmisi. Ada sekitar 150 kota yang menangkap channel Indosiar. Stasiun televisi ini beroperasi dari Daan Mogot,
Jakarta Barat. Indosiar awalnya didirikan dan dikuasai oleh Grup Salim melalui
PT Indosiar Karya Media Tbk yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (dahulu Bursa
Efek Jakarta). Pada 13 Mei 2011, mayoritas saham PT Indosiar Karya Media Tbk
dibeli oleh PT Elang Mahkota Teknologi Tbk, pemilik SCTV, menjadikan kedua
stasiun televisi berada dalam satu pengendalian. Bentuk logo Indosiar yang
sangat mirip dengan bentuk logo Televisi Broadcasts Limited, Hongkong. Indosiar
pada awalnya memang banyak manayangkan drama-drama Hongkong. Contohnya serial
Return of The Condor Heroes yang dibintangi oleh Andy Lau, To Liong To yang
dibintangi oleh Tony Leung. Keduanya cukup populer di kalangan penonton. Dalam
siarannya, Indosiar banyak menekankan kebudayaan. Salah satu program kebudayaan
yang selalu ditayangkan adalah acara pertunjukan wayang pada malam minggu. Pada
awal tahun 2000 Indosiar mengukir prestasinya dengan menjadi runner up
broadcaster se Asia. Dalam proses dinamika kelompok yang terjadi di Indosiar
jika ditinjau dari teori Ruth Benedict yaitu intensitas anggota, di Indosiar
selama kurang lebih 17 tahun menjalin kerjasama yang baik diantara anggotanya.
Memiliki motif atau dorongan karena mempunyai tujuan yang sama yaitu menjadi
stasiun televisi terbaik di indonesia atau bahkan se Asia. Struktur dalam
pembagian tugas tentu sangat beragam, sesuai dengan keahliannya masing-masing.
Dalam kepemimpinan Direktur Utama (Dirut) Indosiar, Lie Halim memimpin Indosiar
dan juga Fernando Audy yang memimpin Global hingga bisa sampai sekarang ini.
Perkembangan kelompok ada banyak kasus yang menyebabkan perpecahan dalam
kelompok salah satunya penggelapan atas kewenangan jabatan Indosiar Visual
Mandiri yang menghentikan pembayaran upah karyawan secara sepihak. Secara
intern, faktor yang mendorong Dinamika kelompok sosial ini adalah karyawan yang
mempunyai komitmen dalam menjalankan tugasnya, serta pemimpin yang dapat
menjadi kondaktor yang mampu menjalankan semua karyawannya hingga semua dapat
berjalan dengan lancar serta perubahan keadaan ekonomi yang menyebabkan
kelompok sosial ini berkembang. Sedangkan faktor extern, ada dukungan dari luar
yaitu banyaknya orang yang menonton televisi dan perbedaan kepentingan,
kelangsungan kelompok dapat terpecah. Peran Indosiar dalam kehidupan masyarakat
Indonesia khususnya dalam bidang sosial budaya yaitu memberikan pengetahuan
dari tahun ke tahun misalnya wayang yang dahulu pernah ditayangkan, serial
komedi srimulat, sehingga masyarakat Indonesia mengetahui informasi dan
hiburan. Berita-berita yang ditayangkan tentu memberikan banyak pengetahuan
tentang kejadian yang sedang berlangsung di Indonesia ini. Mobilitas sosial
yang dimiliki oleh karyawan Indosiar dalam segi ekonomi mengalami mobilitas
vertikal yaitu social climbing.
Setiap karyawan memiliki jabatan dan keahliannya sendiri maka mereka berusaha
menaikkan mobilitas dengan usaha dan kerja keras mereka yaitu faktor individu,
perbedaan kemampuan antara karyawan satu dengan yang lainnya, mana talenta yang
lebih dibutuhkan, status sosial juga dapat mendorong seseorang untuk mengalami
mobilitas seseorang, yaitu keadaan ekonomi, ekonomi yang sedang kesulitan akan
membuat seseorang menginginkan kehidupan yang lebih layak lagi. Tanggapan
kelompok mengenai Indosiar yaitu Indosiar harus dipertahankan keberadaannya
karena Indosiar mempunyai banyak acara yang memberikan pengetahuan dan hiburan,
Indosiar juga merupakan inspirasi bagi banyak stasiun televisi lainnya.
Sedangkan menurut kami Global juga perlu dipertahankan karena merupakan salah
satu stasiun televisi yang lebih banyak menyiarkan kartun untuk anak-anak dan
film dewasa pun ada. Tidak lupa pada berita, Global juga menyiarkan berita
dalam waktu tertentu. Sangat menyenangkan. Adapun struktur organisasi dari
Indosiar dan Global :
